Panduan Fermentasi Pakan Kambing berguna untuk Merawat kambing agar sehat dan cepat tumbuh gemuk bukan hanya soal memberi makan. Kualitas pakan memegang peranan besar dalam keberhasilan usaha peternakan. Salah satu cara terbaik untuk meningkatkan mutu pakan adalah melalui proses fermentasi. Dalam artikel ini, kita akan bahas secara lengkap dan sederhana: apa itu fermentasi pakan kambing, cara membuatnya, manfaatnya, hingga contoh penerapannya di lapangan.
Panduan Membuat Fermentasi Pakan Kambing

Berikut langkah demi langkah panduan fermentasi pakan kambing yang bisa langsung dicoba di rumah atau kebun:
1. Cacah Bahan Hijauan
Potong hijauan menjadi ukuran kecil-kecil (sekitar 5–10 cm). Ini bertujuan agar proses fermentasi berlangsung merata dan cepat.
2. Campur dengan Dedak dan Gula
Dalam wadah bersih, campurkan hijauan dengan dedak dan sedikit tetes tebu atau gula. Perbandingan yang disarankan:
-
70% hijauan
-
25% dedak/bekatul
-
5% tetes tebu/gula
3. Semprot dengan Larutan EM4
Larutkan EM4 dan gula dalam air hangat (misalnya 2 sendok EM4 + 2 sendok gula untuk 1 liter air). Semprotkan larutan ini ke campuran pakan hingga terasa agak lembap (kadar air sekitar 30%).
4. Masukkan ke Dalam Wadah Tertutup
Masukkan campuran ke dalam drum atau kantong plastik. Padatkan agar udara keluar, lalu tutup rapat. Simpan di tempat teduh selama 5–7 hari.
5. Cek Hasil Fermentasi
Setelah 5–7 hari, pakan seharusnya berbau harum khas fermentasi (seperti tape), berwarna agak gelap, dan tidak berlendir atau berjamur. Jika muncul bau busuk, jamur hitam, atau pakan terlalu basah, sebaiknya tidak diberikan ke ternak.
Bahan-Bahan yang Diperlukan dalam Panduan Fermentasi Kambing
Untuk memulai fermentasi pakan kambing, peternak hanya perlu bahan-bahan sederhana yang mudah ditemukan:
-
Hijauan segar: daun jagung, rumput gajah, daun singkong, atau jerami padi
-
Karbohidrat tambahan: dedak padi, bekatul, atau tepung jagung
-
Gula sederhana: tetes tebu atau gula pasir
-
Starter fermentasi: EM4 peternakan atau ragi tempe
-
Air bersih
-
Wadah tertutup: drum plastik, tong, atau kantong plastik tebal
Apa Itu Fermentasi Pakan Kambing
Fermentasi adalah proses pemecahan bahan organik oleh mikroorganisme seperti bakteri asam laktat dalam kondisi anaerob (tanpa oksigen). Dalam konteks pakan kambing, Proses fermentasi membantu kambing mencerna pakan lebih baik dan membuat pakan lebih awet.
Tips Penggunaan fermentasi Pakan Kambing di Lapangan
-
Berikan pakan fermentasi sedikit demi sedikit di awal agar kambing beradaptasi.
-
Campurkan dengan rumput segar atau air minum untuk membiasakan ternak dengan tekstur dan rasa baru.
Kelebihan Fermentasi Pakan Kambing Silase
| Pakan Biasa | Pakan Fermentasi |
|---|---|
| Cepat basi | Tahan lebih lama |
| Kurang bergizi | Nutrisi lebih tersedia |
| Kurang disukai kambing | Lebih enak dan wangi |
| Boros dan mahal | Hemat biaya |
Kesalahan Dalam panduan Fermentasi Pakan Kambing
-
Terlalu banyak air: bisa membuat pakan cepat busuk
-
Tutup wadah terbuka saat fermentasi: bisa memicu tumbuhnya jamur
Contoh Sukses di Lapangan
Pak Slamet, peternak kambing dari Gunungkidul, mulai menggunakan fermentasi sejak 2022. Dengan memanfaatkan daun singkong dan dedak dari penggilingan terdekat, ia bisa menekan biaya pakan hingga 40%.
“Kambing-kambing saya jadi lebih cepat besar, bulunya juga lebih halus. Sekarang, banyak tetangga ikut belajar bikin fermentasi sendiri,” ujar Pak Slamet.
Jika ingin hasil lebih maksimal, peternak bisa menggunakan mesin pencacah rumput atau alat pengaduk pakan.
Pemerintah melalui Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP Batu) juga mendorong pelatihan fermentasi pakan sebagai bagian dari program ketahanan pangan. Pelatihan rutin diadakan untuk petani dan peternak skala rumahan agar bisa mandiri pakan.
Penutup
Memulai fermentasi pakan kambing tidak harus mahal atau ribet. Cukup dengan bahan-bahan di sekitar rumah, sedikit waktu, dan semangat belajar, hasilnya bisa sangat menguntungkan.
Panduan fermentasi pakan kambing ini bisa jadi langkah awal bagi Anda yang ingin meningkatkan produktivitas ternak tanpa menambah biaya. Mulailah dari skala kecil, evaluasi hasilnya, dan tingkatkan sesuai kebutuhan.
Kalau masih ragu, cobalah ikut pelatihan peternakan atau diskusi dengan peternak lain yang sudah lebih dulu mencobanya. Kunci utamanya ada pada kemauan untuk mencoba dan terus belajar dari pengalaman.